Matam Ase merupakan tradisi panen padi masyarakat Dayak Taman yang dilakukan ketika bulir padi telah menguning dan siap dipanen. Kegiatan ini menjadi puncak dari seluruh proses pertanian ladang yang telah dilakukan selama berbulan-bulan.
Matam Ase adalah kegiatan memanen padi yang telah matang dan siap dipetik. Tradisi ini menjadi tahap akhir dalam siklus pertanian masyarakat Dayak Taman setelah proses membuka lahan, membakar ladang, menugal, dan menanam padi.
Tradisi Matam Ase masih dilaksanakan oleh masyarakat Dayak Taman di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Kegiatan panen dilakukan secara gotong royong dan menjadi momen penting bagi keluarga maupun masyarakat kampung.
Hasil panen tidak selalu sama pada setiap ladang. Perbedaan hasil dapat dipengaruhi oleh waktu membuka ladang, kondisi cuaca, banjir, kesuburan tanah, serta lokasi ladang yang dekat atau jauh dari sungai.
Tidak semua keluarga memperoleh hasil panen yang sama. Data berikut digunakan untuk mempelajari distribusi frekuensi hasil panen padi dalam satu musim.
| Kelompok Hasil Panen | Jumlah Keluarga |
|---|---|
| 400 – 500 kg | 3 |
| 500 – 600 kg | 7 |
| 600 – 700 kg | 5 |
| 700 – 800 kg | 2 |
Histogram digunakan untuk melihat sebaran hasil panen padi berdasarkan kelompok produksi yang diperoleh oleh keluarga dalam satu musim panen.
Berdasarkan data contoh, kelompok hasil panen 500–600 kg memiliki jumlah keluarga terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga memperoleh hasil panen pada kategori sedang.
Perbedaan hasil panen menunjukkan bahwa setiap ladang memiliki kondisi yang tidak selalu sama. Faktor lingkungan dan kondisi lahan dapat menyebabkan hasil panen lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan ladang lainnya.
Kondisi cuaca, curah hujan, banjir, kesuburan tanah, serta lokasi ladang menjadi faktor yang dapat mempengaruhi produksi padi dalam satu musim tanam.
Matam Ase menunjukkan bahwa hasil panen dapat disajikan dan dianalisis menggunakan konsep distribusi frekuensi. Melalui pendekatan etnostatistika, peserta didik dapat mempelajari bagaimana budaya pertanian masyarakat Dayak Taman menghasilkan data yang dapat diolah dalam pembelajaran statistika. Data hasil panen dapat digunakan untuk mempelajari histogram, distribusi data, dan interpretasi informasi statistik.
Histogram menunjukkan bahwa hasil panen tidak selalu sama pada setiap keluarga. Sebagian keluarga memperoleh hasil panen lebih tinggi karena kondisi ladang yang lebih baik, sedangkan sebagian lainnya dapat mengalami penurunan hasil akibat banjir, cuaca ekstrem, atau faktor lingkungan lainnya. Melalui data ini, peserta didik dapat memahami bahwa statistika membantu dalam menganalisis variasi hasil panen yang terjadi di masyarakat.
Scan marker Matam Ase menggunakan
ETNOSTATS-AR untuk mempelajari tradisi
panen padi masyarakat Dayak Taman dan
konsep statistika berbasis budaya
Kalimantan Barat.
Materi yang dapat dipelajari:
✅ Distribusi Frekuensi
✅ Histogram
✅ Penyebaran Data
✅ Interpretasi Data
✅ Etnostatistika Berbasis Budaya
Tradisi Matam Ase menunjukkan bahwa hasil
panen dapat berbeda pada setiap keluarga
karena dipengaruhi oleh kondisi lingkungan,
cuaca, lokasi ladang, dan faktor alam
lainnya.